Dandelion and Azalea

I wanna to fly away like dandellion and blossom beautifully like azalea... Spread my wings away to feel wind.. Enjoy my blog

  • Beranda
Home Archive for April 2016
Dandellea adalah sebuah projectku yang isinya tentang jahit menjahit. Kenapa aku bisa menamakannya dandellea. Karena dandellea adalah gabungan dari dua buah nama bunga yang aku sukai yaitu dandellion and azalea.

Project ini timbul karena aku gak sengaja ikut masuk grup di facebook yang bernama Craftalova Fabric Club. Craftalova ini diprakarsai oleh mbak Ayu Ovira. Kebanyakan anggotanya ibu-ibu yang suka menjahit. Produk buatan mereka sangat cantik dan bagus dari mulai tas, slingbag, totebag, backpack, aplikasi, dan lain-lain. Melihatnya jadi pengen nyobain bikin sendiri. Akhirnya aku nyoba nyari contoh ataupun tutorial dari Pinterest maupun Youtube. Tapi tentu saja pola dan ukurannya aku buat sendiri.

Selain itu, Craftalova Fabric Club punya anakan grup yaitu Fabric and Craft Supply Market. Itu adalah grup yang isinya jual menjual alat dan bahan untuk membuat tas. Aku pun mulai mengenal beberapa orang yang menjual kain yang kebanyakan menjual kain katun, kanvas dan sampai akhirnya mengenal berbagai macam kain.

Aku bisa gila melihat banyaknya motif kain yang cantik, dan bingung harus membeli yang mana. Sampe sekarang aku sudah lumayan mengumpulkan berbagai macam kain, dan berhenti sejenak untuk membeli karena kainnya masih banyak yang belum digunakan. Sayang sekali harus membuang-buang uang. Padahal yah, aku sering beli barang barang yang gak guna,, ya seperti itu contohnya. Hmmm....

Karena aku gak punya mesin jahit, akupun menjahit manual dengan tangan. Dan itu membutuhkan waktu yang lama. Alhamdulillah kata temanku, jahitanku rapi. Padahal ya... Makanya, aku sering malas ngelanjutin project dandellea karena gak punya mesin jahit. Padahal itu cuma alasan aja.

Aku kadang bingung, sebenarnya aku suka passion dimana. Karena ini aku lakukan karena suka sesaat. Dan kalo lagi mood akan ngejahit. Cuma sebagai hobi

Dari beberapa project q dari dandellea. Ada yang aku buat untuk kado teman q, buat sepupuku, dan dijual untuk temanku, sisanya buat aku sendiri.

Kalian bisa liat projectku di Instagram. IG :@dandellea. Sebenarnya kalo dijalani bisa dijadikan ladang uang sih.. Tapi, kita lihat saja nanti.


Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Kenalin,,, ini peliharaan baru aku, "Sukulen". Sukulen adalah sejenis kaktus, yang dapat hidup di tanah yang kering dengan menyimpan air di tubuhnya (daun, batang, akar). Itu yang aku baca di internet.

Aku gak sengaja membeli tanaman ini karena menemukannya di salah satu pojok Superindo, "hypermarket". Karena tertarik sama bentuknya yang mungil dan imut, aku pun membelinya.

Semoga tanaman ini bisa tumbuh baik ke depannya. Soalnya, Ini tanaman yang pertama kali aku beli sendiri loh. Aku pernah dibeliin tanaman sama ibuku, mawar ungu yang harum sama strawberry saat sedang berwisata di Kopeng. Tapi, aku sekarang gak tau gimana keadaan tanaman itu lagi karena udah lama gak diurus. Dan semoga aku bisa merawat "Sukulen" ini dengan baik. Ngomong-ngomong, enaknya tanaman ini dikasih nama apa ya??? Hmmm ....


Yah,, taraaaa ini my baby .. Cantik bukan? Aku jadi pengen koleksi berbagai macam jenisnya deh seperti gambar yang aku temukan di Tumblr ini.


Hari ini aku kalap membeli alat alat lukis, padahal rencana awalnya aq berniat melihat harga Gouache Paint Set. Tapi ternyata produk yang dicari gak ad. 

Tapi ternyata oh ternyata, aq menemukan sesuatu. Produk produk Sakura. WOW!!! Ternyata ad Koi Sakura Watercolor 30 set, sedangkan yang aq punya hanya 24 set.  Entah kenapa aq merasa sedikit nyesel. Haha... Dasar

Aq sebenarnya tertarik membeli kuas baru Koi Sakura Watercolur yang tipe kecil karena yang aku punya tipe medium, makanya hasil lukisanku gak bisa bikin detail. Jadinya, akhirnya aku beli kuas baru itu.

 Nah, nah,, tapi ad virus berbahaya dari produk Sakura lainnya yaitu drawing Pen MICRON. 

Awalnya aku ragu beli karena takut gak kepakai. Ragu antara beli atau gak, mondar mandir beberapa kali akhirnya aku putuskan untuk beli drawing pen MICRON satu set yang terdiri dari 5 buah drawing pen 0,05 0,1 0,3 0,5  dan brush. Padahal aq itu masih punya drawing pen merk Artline yang 0,05 sama drawing pen merk SNOWMAN yang 0,1 sama 0,3 sepertinya. Waduh, pemborosan ini..

Tapi, akhirnya kedua alat tersebut yang ngambil uang lumayanlah untuk hari ini, akhirnya aku pakai juga untuk lettering dan watercolour. Dan ini hasilnyaa.... 





Not bad lah ya .. Aku jadi pengen buat project deh kedepannya.


Aku pernah terpuruk, menangis sendirian dalam diam, menyalahkan keadaan, sampai perasaanku benar benar membaik, lalu aku menyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku selalu berpikir apakah jalan yang aku pilih ini salah, apakah yang telah aku lewati ini salah, apakah yang telah aku lakukan selama ini sia-sia saja. Entahlah aku tak tahu. Aku merasa dalam keadaan yang sama, tidak berubah, tidak mundur ataupun tidak maju, tapi berhenti di tempat. Dan aku ingin teriak, tapi akupun tetap sama seperti sebelumnya. Tak bergerak. Aku hanya menangis...

Aku sadar bahwa aku tak bisa mengubah keadaan yang telah lalu. Aku tak bisa mengubahnya sama sekali.  Aku hanya perlu mengubah haluannya kemana aku akan melangkah esok. Memantapkan hati, pikiran dan langkahku bahwa yang telah aku jalani selama ini tak sia-sia. Mungkin semua usahaku belum maksimal untuk memperjuangkannya.

Gak ada yang sia-sia, selama aku masih hidup untuk memperjuangkannya. Aku harus banyak belajar ketika hidup ini terasa menyakitkan. Mungkin usahaku belum saatnya terbayarkan dan selama ini usahaku belum maksimal untuk mencapainya.. Selalu ad alasan kenapa semuanya terjadi. Mungkin salah satu alasannya untuk menempaku menjadi lebih baik..

Tapi apa gunanya kalo aku tetap di zona ini, tanpa terus bergerak dan menyalahkan diriku dan keadaan..

Move on and go forward
"Semuanya akan baik baik saja"

Berprasangka baik itu menurutku ...

Berparadigma bahwasannya  setiap hal, setiap masalah, selalu ada alasan yang baik dan benar untuk mengatasinya. Berprasangka baik dengan menanamkan dalam hati dan pikiran-pikiran kita bahwa ada berbagai kemungkinan-kemungkinan yang mendasari suatu hal itu terjadi.

Seperti andaikan, ketika ada suatu hal yang mengganjal di hati kita, mungkin penyebabnya bisa ini, bisa itu atau juga kembali lagi kepada diri kita. Mungkin siapa tahu bisa jadi kita juga penyebabnya. Seringkali berprasangka baik bersinonim dengan berpikir positif (menurutku). 

Dampak positif dari berprasangka baik, tentunya membuat kita tidak terlalu terbebani dengan pikiran – pikiran buruk yang menguasai diri kita. Dampak buruknya, mungkin kita akan selalu melihat setiap orang selalu baik di mata kita. Sehingga dalam berprasangka baik juga ada kadarnya, jangan terlalu berlebihan. 

Dan Allah pun menyukai orang –orang yang berprasangka baik daripada berprasangka buruk. Sebagaimana dikatakan dalam hadits Qudsi ; " Aku sesuai prasangka hambaku kepadaKu"

 Jadi memang sebenarnya, berprasangka baik adalah mujarab bagi kesehatan. Hahaha



Niji adalah lagu kesukaanku dari J-pop , AAA (Attack All Around). Lagu ini yang aslinya punya Greeeen ini mempunyai arti yang mendalam. Lagu yang berjudul "Pelangi" jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini mengajak kita untuk semangat dalam mengapai cita-cita dan keingian kita. Sukaaaa deh dengan arti liriknya...

LIRIK + TERJEMAHAN : 

Koko made aruite kita ashiato furikaeri nagamete ita dore mo oboete iru yo
Hitotsu hitotsu mayotte ita magarikuneri nando mo tsumadzuki kizutsuita yume ni chikadzukitakute
Melihat kembali jejak langkah kita hingga sampai kemari, ingatlah semuanya
Satu per satu kita ingin tahu, sering kali kita terluka, tersandung saat melalui jalanan berliku
Nagedashite yowane wo haite mata hitotsu ushinatte yuku
Kizutsuki kasane kidzuite asu a bokura no iro de
Kita melontarkan keluhan dan kehilangan lagi satu hal lainnya
Seiring luka bertambah, kita memandang hari esok yang berwarna
Ato dore hodo no "namida" wo nagashite tadoritsukeru darou ?
Ato dore hodo no "itami" wo kuishibatte tachiagareba ii?
Kitto bokura tadoritsuku'n da!!!
Apa kita pikir kita bisa meraihnya dengan menumpahkan banyak air mata?
Apa pantas kita berdiri sambil mencengkram begitu banyak rasa sakit?
Aku yakin, kita pasti bisa meraihnya!!!
Kore kara no keshiki dokomademo egakou kokoro no kyanbasu wo nana-iro de
Haruka kanata made tsudzuiteku tabiji soredemo susunde ireba itsuka
Kitto ano chiheisen no saki niji wo kake no ikou
Mari kita warnai semua pemandangan kemanapun kita pergi dan menggambarkan warna pelangi di atas kanvas
Ini perjalanan yang akan membawa kita jauh, suatu hari nanti jika kita tetap terus maju
Mari kita pergi, pasti kita akan melihat pelangi yang menunggu di ujung cakrawala
Dekinai koto wo kazoe fuan de hito to kurabete shimai sou ni itsumo naru keredo
Meskipun kita tak bisa menghitung semua hal yang tak bisa kita lakukan
Kitto sekai nanajuu oku no ikiru michi sorezore chigau mono
Dare mo ga mayoi nagara mo ikite ite chigau hikari wo hanatte waratte misete
Daiji na mono mamotta everyday egaite tsunagari boshi wa nana-iro no niji wo kakeru sa
Aku yakin di dunia ini ada 70 miliar jalan berbeda satu sama lain
Semua orang hidup sambil terus merasa ragu, mengeluarkan cahaya berbeda dan senyum mereka
Dan menjaga hal yang berharga setiap harinya, menghubungkan bintang-bintang dengan menggambarkan tujuh warna pelangi
Kimi rashiku boku rashiku kono ima wo utaereba ii
Koe kikasete ashiato kasane majiwaru sadame
Kau jadi dirimu sendiri, aku jadi diriku sendiri, sekarang cukup kita bernyanyi
Teriakan dengan keras, takdir bertemu dengan jejak langkahmu
Ato dore hodo no "kuyashisa" kamishime tadoritsukeru darou ?
Ato dore hodo no "yowasa" to mukaiai hakanasa shireba ii?
Kitto bokura tadoritsukou!!!
Apa kita pikir kita bisa meraihnya sambil menggenggam keraguan?
Dapatkah kau mengetahui kiranya menghadapi kelemahan?
Pasti kita bisa meraihnya!!
Waratte naite mo nakushite mitsuketa kitto sono dore mo ga subarashii
Sorezore no tabiji majiwari ikiteru onaji toki wo kakeru tomo ga iru
Kitto bokura wa hikari hanachi tagai terasu yo
Dengan menghapus tawa dan tangis, kita pasti temukan sesuatu yang menakjubkan
Setiap perjalanan hidup kita, di saat yang sama kita saling bertaruh
Pasti cahaya kita bisa saling menyinari
Kakenuketa hibi ga kono senaka itte oide to oshite warau darou
Hikari mo kage mo tsurete susumou gamushara na ima wo utai nagara
Mari kita pergi sambil membawa cahaya dan bayangan, kita nyanyikan sekarang
Setiap hari-hari yang kita lalui dengan tawa dan saling mendorong
Arigatou kimi ga oshiete kureta mono sore wo oto ya kotoba ni nose utaou
Kimi ga warau kara tachimukatte ikeru nana-iro no hikari atsumeta niji
Terima kasih kau sudah mengajari cara menaruh musik dan kata-kata dalam nyanyian
Karena tawamu kita bisa hadapi dan berkumpul menjadi tujuh cahaya pelangi
Machigai darake no bokura no mainichi kitto sono dore mo ga subarashii
Yowasa wo shitta bun tsuyoku nareru kara takai kabe mo tobikoete ikeru 
Hidup kita mungkin penuh dengan kesalahan, tapi pasti setiap hari ada hal yang menakjubkan
Mengetahui kelemahan membuat kita kuat, sehingga kita bisa melompat dinding yang tinggi
Kitto kore kara mo owaranai tabi wo tsudzukeru
Pasti kita akan terus menjalani hidup yang abadi ini
Kimi to ashita mo mata atarashii tabi wo hajimeyou
Kau pun esok akan mulai kehidupan yang baru lagi

Copied from furahasekai
Source : http://furahasekai.com/2015/07/13/aaa-niji-lyrics-indonesian-translation/ 



Setiap manusia pasti mempunyai dua hal dalam hidupnya, selalu diliputi kebahagiaan dan juga kesedihan. Siapa sih orang yang hidupnya bahagia terus?? Perfect banget tuh orang.. semua orang pasti ingin. Dan siapa sih orang yang hidupnya merana terus? Duh, kasian banget tuh orang,, gimana yah nolongnya, pasti semua orang nggak ingin.. Yah, itulah kehidupan, nggak adil rasanya jika ada orang yang selama hidupnya diliputi kebahagiaan dan nggak adil juga jika ada orang yang selama hidupnya diliputi dengan kesedihan. Yang adil gimana? Yang adil ya manusia yang mempunyai dua hal tersebut dalam hidupnya.

Kebahagiaan adalah moment terindah yang akan dialami oleh manusia. Pada waktu itu, berbahagialah dan bersenang-senanglah. Jadikan itu adalah sebuah kenangan yang takkan terlupakan.. Usahakan waktumu diliputi dengan kebahagiaan, dan itu merupakan  puncak tertinggi dalam hidup kita.

Bagaimana dengan kesedihan? Begitu pula dengan kesedihan , ia pasti akan hadir dalam hidup kita. Menangislah, dan bersedihlah sepuasmu. Tapi, kau harus sadar, kesedihan janganlah kau ratapi begitu dalam, kau sesali kehadirannya, sehingga kau menyesali apa yang ada dalam hidupmu. Kesedihan akan hadir setelah kau puas dengan kebahagiaan.  Ingatlah, berapa banyak kebahagiaan yang telah kau dapatkan? Ketika kesedihan datang, mungkin itu harga yang harus kau bayar untuk setiap kebahagiaan yang telah kau dapatkan..  Berpikirlah bijak, mungkin ada orang yang lebih menderita daripada dirimu dalam hidup ini, mungkin juga dalam masalah yang sama.
Bersyukur  dalam setiap alunan hidup juga mengikhlaskan setiap dihadapkan dalam masalah, merupakan pelipur lara setiap kesedihan datang.

Hidup adalah  sebuah pembelajaran. Kebahagiaan dan kesedihan selalu datang silih berganti, seperti sebuah roda kehidupan. Ketika kita dihadapkan dengan kesedihan, kita disadarkan untuk menghargai kebahagiaan. Ketika kebahagiaan datang, sadarilah bahwa suatu saat kesedihan akan datang.. Dan kuatkan hatimu ketika masa itu datang..
Itulah sebuah kehidupan… Selalu ada kebahagiaan dan kesedihan yang menjadikan kehidupan seorang anak manusia menjadi berwarna



Setiap orang menginginkan kehidupan yang bahagia. Namun, kebahagian itu bukan diukur dari seberapa banyak harta, seberapa banyak teman, seberapa tinggi jabatan/kedudukan, juga seberapa bagus paras yang dimiliki. Karena semua itu suatu saat akan hilang....

Kebahagiaan bukan hanya saat kita merasa bahagia karena suatu hal yang membuat kita bahagia. 

Namun,, kebahagiaan itu...

Seberapa besar kita dapat menerima keadaan kita secara lapang ketika kita berada dalam keadaan yang terpuruk sekalipun. Namun, kita memilih untuk tetap bersabar meskipun kita berhak marah dan mengutuk apa yang terjadi. Lantas kemudian kita mensyukuri kesedihan yang terjadi, karena berharap ada alasan di balik alasan penyebab kejadian. Ada hal baik yang terselip setelah kejadian buruk. 
Ketika pintu satu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu yang tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. Alexander Graham Bell
Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Just go forward and move on.





Pendakian pertamaku adalah ke Gunung Slamet (3432 mdpl) pada tanggal 6 – 8 Juni 2013. Mungkin bagi sebagian orang beranggapan untuk apa capek-capek naik gunung, apalagi untuk perempuan. Namun bagiku tidak. Itu adalah suatu tantangan sendiri bagiku. Meskipun akhirnya, kapok naik gunung lagi. Hahaha…

Aku menyukai alam, tak terkecuali gunung. Dan apalagi aku pernah bercerita bahwa aku menyukai luar angkasa dan itu pasti berhubungan dengan ketinggian. Sudah sejak lama, sejak kelas 5 SD aku mengikuti kegiatan Pramuka yang berumur singkat. Saat itu ada kegiatan jalan – jalan. Kami menaiki sebuah bukit dengan batu-batu besar dekat Kantor PDAM.

Sebenarnya bukan bukit, tapi gundukan tanah yang tinggi, yang disekitarnya masih rapat belantara pepohonan, meskipun bau kemenyan tercium selama menaikinya. Ketika aku sampai di atas, aku melihat bukit-bukit yang mengungkung kotaku. Dan rasanya senang berada di atas sana. Sejuk, dan luas. Aku bisa melihat pemandangan di sekitarku. Dan pemandanganku hanya tertuju pada bukit di depanku. Entah bagaimana bisa ada rumah-rumah yang berdiri tegak di atas bukit dan membuatku penasaran bagaimana kalau aku bisa sampai ke atas sana.

Keinginanku bertambah sejak SMA, pada saat guru Fisikaku, Bapak Ansori bercerita bahwa beliau pernah mendaki Gunung Merapi (Padang) pada saat masa awal kuliahnya. Beliau menceritakan bahwa bisa melihat kawah gunung dan letupan (apa ya namanya?) di bawah kaki beliau #hehehe.. Apalagi bu guru Bahasa Indonesiaku yang menceritakan keseruannya bersama anak- anak Pecinta Alam. Dan aku merasa bersemangat sekali. Pada saat itu, aku berjanji ingin menjadi Pecinta Alam pada saat aku kuliah nanti dan mendaki beberapa gunung di sana. Ketika aku menceritakan keinginan pada ibuku, beliau cuma mendengarkan tanpa berkomentar sama sekali. Ya, aku tahu pasti ibuku tidak akan mengizinkanku. Dan jawabannya “Ya terserah”. Apalagi aku pernah iri kepada teman-teman KIR (Karya Ilmiah Remaja) yang pernah mendaki G. Maras di perbatasan Belinyu. Rasanya aku pengen ikut, tapi apa daya aku bukanlah anggota KIR … Hahahaha..

Entahlah, ada rasa bahagia tersendiri yang menyusup ke dalam hati kalau mendengar yang berbau-bau seperti itu #Ceilah bahasanya… gak nahan… hahahaha

Namun, Alhamdulillah keinginanku pun tercapai. Aku bisa menginjakkan kakiku di puncak G. Slamet (3432 mdpl). Aku sudah menyiapkan persiapan yang matang jauh-jauh hari. Aku sudah searching ke mbah google tentang segala hal yang berhubungan tentang pendakian G. Slamet, walaupun belum ada persiapan fisik untuk melewatinya. Tapi aku merasa aku sudah cukup kuat karena sering rajin jalan kaki.

Berangkat dari Semarang pukul 5 sore dan sampai di Purwokerto jam 11 malam. Sampai disana kami menginap di basecamp dekat rumah-rumah warga. Waktu datang kami langsung disuguhi secangkir teh hangat dan disuruh makan nasi. Namun, sayang ternyata rahangku gak bisa membuka setelah terjadi insiden waktu pulang ke Boyolali.  Hal ini menjadikanku sulit makan, jadi aku cuma makan beberapa suap saja. Dan selama pendakian aku cuma makan nasi sedikit sekali kalau bisa dibilang cuma beberapa suap kecil dan harus pelan-pelan, sementara yang lain bisa makan dengan lahapnya. Aku takut rahangku patah, kalau aku paksa buat makan. Mungkin kesalahan engsel kali.

Pendakian di mulai pada pagi hari dan jalannya menanjak sekali. Sayangnya aku ditempatkan pada kelompok pertama bersama Kak Tio, Kak Din, Afri, William, Ondang, Ado, Adeknya Ado, Giri, Barkah, Mbak April dan Aku. Padahal aku ingin sekali ditempatkan di kelompok terakhir. Aku yang tidak mengenal cuaca di Gunung Selamet, langsung saja memutuskan memakai pakaian beberapa lapis. Padahal menurut prasangkaku, G. Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah pasti udaranya dingin, seperti G.Sindoro dan G.Sumbing di Wonosobo yang dingin sekali. Tapi dugaanku salah. Meskipun dingin, tapi pagi hari terasa panas sekali. Aku sudah roboh sebelum sampai Pos 1. Rasanya aku ingin berhenti saja. Namun untuk mencapai Pos 2 sudah memasuki pepohonan yang lebat dan aku mulai bersemangat mendaki, karena hawanya cukup mendinginkan kelelahanku.

G. Slamet adalah gunung yang tracknya sulit menurutku karena jalannya masih jalan hutan. Tanahnya begitu licin dan gembur, dan tanjakannya tak kira-kira. Aku harus berpegangan dengan dahan pohon, akar pohon dan apapun yang bisa aku jadikan pijakan dan pegangan untuk bisa naik ke atas. Ada Mbak April yang menjadi penyemangatku. Kalau Mbak April bisa kenapa aku nggak bisa. Meskipun aku dan Mbah April sudah tertinggal satu langkah dari anak-anak cowok Kelompok Pertamaku. Tapi, kami tetap mendaki sampai ke Pos 4 pada jam 12 – 1 siang. Sampai di Pos 4 rasanya udara dingin sekali menusuk kulit dan aku berjemur di terik matahari. Di Pos 4 ada beberapa pendaki lain yang berkumpul di sana. Ada sebuah tempat peristirahatan sementara yang terbuat dari seng-seng yang disusun dan bisa memuat 2 tenda di dalamnya. Di Pos 4, ternyata ada sebuah mata air dan untuk mencapainya kita perlu turun ke bawah. Airnya jernih namun dingin sekali seperti es. Dan kami menunggu sampai rombongan pendaki yang lain tiba di Pos 4. Akhirnya kakak – kakak Archidipala (Arsitektur Pecinta Alam) memutuskan rombongan bermalam di Pos 4 , setelah Pos 5 ramai dengan pendaki yang lain mendirikan tenda. Kami pun mendirikan tenda dan makan malam, sebelum memutuskan tidur dan bangun di pagi hari.

Malam begitu gelap dan aku bisa melihat langit begitu bersihnya. Banyak bintang bertaburan, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan bintang satu dengan yang lainnya seperti bermiliaran bintang yang menggantung di angkasa. Dan aku hanya bisa bilang “Waw”. Subhanallah… Pantesan dulunya para ilmuwan bisa menemukan rasi bintang diantara bermilyaran bintang.. Kereennnn… Andaikan aku punya teleskop ya.. hahahai

Jam 2 pagi rencananya rombongan mau mendaki sampai puncak di Pos terakhir, Pos 9. Karena pendakian ini pendakian massal, maka sudah ada beberapa orang yang sudah mendaki. Untungnya aku bisa bangun pada jam segitu, karena mendengar keramaian diluar. Namun, aku ragu untuk keluar dari tendaku karena Mbak-Mbak Archidipala yang lain masih tidur dengan nyenyak dan sepertinya mereka tidak mau mendaki sampai puncak, apalagi Mbak April. Aku ragu, tapi aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Setelah pengorbanan uang dan tenaga jauh-jauh sampai sini, kan sia-sia kalau tidak sampai puncak. Makanya aku memutuskan keluar dari tenda dan membawa air seperlunya untuk sampai ke puncak.   

Pagi hari udara sangat dingin dan air minum terasa seperti es yang mengisi kerongkonganku. Aku tak sanggup berjalan. Oksigen terasa begitu sedikit, dan aku kesulitan bernapas. Aku lebih banyak berhenti dan napasku terengah-engah. Namun dengan sedikit berhenti, aku memompa kembali tenagaku untuk berjalan meski rasa dingin semakin terasa. Aku selalu berpikir kapan jalan ini akan mencapai titik temu. Meskipun disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Kerlap kelip lampu kota dari jauh seperi butiran emas dan perak dari kejauhan. Tapi perjalanan menuju puncak masih panjang.

Matahari pun akhirnya semakin menampakan tubuhnya, tapi tetap saja udara dingin menusuk… Kami melewati Pos 5 yang penuh dengan tenda –tenda para pendaki yang lain. Dan Pos 5 disini seperti Pos 4 berupa tempat peristirahatan.. Kami menuju Pos selanjutnya dan harus menerabas lebatnya hutan. Tapi vegetasi menuju puncak semakin jarang. Sudah mulai didominasi oleh rumput liar dan bebatuan.. Dan akhirnya aku menemukan bunga edelweiss, tumbuhan gunung yang cantik yang biasanya ditulis di novel-novel. Bunga edelweiss ini bisa tumbuh di ketinggian yang sangat tinggi dan cuma di gunung doang.. kereen ya. Tapi bunga ini gak boleh dipetik, kalau dipetik ntar disuruh kembaliin lagi ketempat asalnya. Mengerikan kalau disuruh naik gunung lagi..

Kami belum sampai di puncak (maksudnya rombongan ku : Kak Rini, Kak Bachtiar, Kak Greta, sama anak FIB yang ikut pendakian massal ini, dll) tapi matahari telah menampakkan dirinya. Aku baru melihat matahari perlahan-lahan membuka tabir suryanya menerangi dunia seperti yang ada di TV-TV itu.. Mengagumkan.. Makanya kebanyakan para pendaki naik gunung, salah satunya tujuannya untuk melihat sunrise dan kebanyakan pendakian dimulai di malam hari…

Ternyata tak jauh memandang, puncak gunung sudah keliatan. Tapi tetap saja puncaknya menjulang tinggi sekali.. Aku masih teringat perkataan Kak “Ican” yang katanya “Sebentar lagi sampai, 10 menit lagi. Tapi nyata sampai sejam lebih. Ya itulah Kak Ican yang selalu menyemangati aku dan Mbak April supaya jangan menyerah.

Ya, seperti dugaanku, meskipun puncak telah ada di depan mata, tapi rasanya jauh sekaaaaliii… Menuju puncak tepatnya Pos 8 atau Pos 9 yah?? Vegetasi disini sudah sedikit sekali kebanyakan rumput liar, seperti ilalang putih yang sering kutemukan di kebon ataupun rumpun bunga edelweiss. Dan udaranya tidak terkata. Dinginnn banget.. Gak kebayang naik Mount Everest gimana dinginnya.. Andaikan film “ VERTICAL LIMIT” beneran syuting di G.Everest salut banget dah… Apalagi ada pesan yang disampaikan oleh ilm itu ( "Semua orang akan mati, apa yang kita lakukan sebelum kita mati yang diperhitungkan".)
Apalagi Kak Aji yang cuma pakai kaos doang,nggak kerasa dingin apa.. #hmm.. gak habis pikir.

Dari atas sini aku melihat kaki gunung yang hijau dan rumah-rumah penduduk yang kecilllllllll sekali.. Entah kenapa aku jadi berpikir. bagaimanakah Tuhan yang di Atas sana melihat kita makhluk ciptaan-Nya?. Pasti kita kecil sekali dihadapan-Nya… Makhluk hina seperti kita seharusnya bersyukur.. Mungkin saja kita bisa saja dimusnahkan dalam sekejap. Namun, Tuhan Yang Maha Agung masih memberikan karunia-Nya kepada kita supaya kita banyak bersyukur dan selalu taat. Subhanaallah…

Awan-awan bejejeran tampak berada dibawah aku berdiri. Apa yang akan terjadi jika aku lompat kesana ya. Apakah akan seperti kisah Nobita dan Doraemon di negeri Awan.. Hahaha #ngaco…

Aku melihat lagi ke puncak. Jalan menuju puncak lebih ekstrim.. Bebatuan tampak meliputinya.. Aku harus merangkak, memanjat bebatuan. Dan hal ini tersulit karena mungkin saja kita bisa tergelincir kalau tidak hati-hati. Entah bagaimana jadinya kalau terpental ke bawah. Mengerikan sekali… Namun akhirnya aku menemukan solusinya, kaki harus menapak di bebatuan yang paling kokoh dan besar dan jangan mengikuti langkah orang didepan karena beresiko sekali. Kalau yang di depan tergelincir, atau ada batu-batuan yang tersampar kan jatuhnya ke kita juga… Aku juga banyak berhenti. Meskipun rasanya menyenangkan sekali. Tapi tetep aja capek, dingin dan kehausan tentunya.. Tapi untungnya aku bawa air minum ke atas, 3 atau 4 botol 600ml. Dan akhirnya tasku di bawakan Kak Greta supaya gak kesusahan manjat bebatuaan.

Dan aku bertemu dengan anak-anak Purbalingga daerah sana yang ikut mendaki. Dan cewek-cewek lagi. Salut banget, apalagi umurnya lebih muda dari aku. Dan akhirnya setelah butuh waktu selama satu jam lebih dari Pos 8/9, akhirnya sampai di Puncak juga dan sudah banyak pendaki lain..

Kakak2 Archidipala yang sudah sampai duluan, mereka sudah sedari tadi memasak minuman hangat dengan memakai …. Dan paraffin. Aku langsung aja duduk kelelahan. Capek banget.. dan udaranya dingin sekalii…. Udaranya disini lebih kencang.. dan aku hanya beristirahat sampai tenagaku penuh lagi. Kebanyakan orang pasti langsung mengabadikan momennya ketika sampai di puncak gunung. Dan aku cuma melihat mereka saja. Untungnya aku bawa handphone Nokia ku yang tahan banting. Biarpun kameranya jelek dan VGA doang, tapi aku tetap memotret keadaan G. Slamet ini. Biarpun ntar gak ada yang liat maupun gak ada yang mau lihat, karena gambarnya buram #hahaha. Tapi aku akan tetap senang. Karena pendakian ini bukan kesenangan dari yang terlihat tapi juga dari batinku.

Kami berada di atas gunung sebelum pukul 9, karena aktivitas gunung sudah mulai aktif. Maksudku gunung udah mulai mengeluarkan gas-gas berbahayanya. Jadi gak baik buat kesehatan… Aku di puncak sampai pukul 8 kurang.. Sekelompok anak dari rombongan pertamaku turun ke bawah… untuk melihat kawah G. Slamet. Akupun penasaran untuk melihat juga.. Karena ini mungkin cuma sekali kesempatanku untuk melihat kawahnya lagi. Gunung Slamet memang gunung semi aktif, tapi bukan seperti gunung G.Merapi dan konco-konconya. Untuk melihat kawah, perlu turun kebawah. Sesampainya disana aku bisa melihat kawah yang menganga, mungkin seperti itulah yang diceritakan Pak Ansori dulu. Tapi ternyata ada beberapa pendaki lain yang benar-benar turun ke kawah, dari atas juga aku bisa melihat batu-batuan kecil yang disusun membentuk tulisan dan bentuk yang mengungkapkan perasaan para pendaki yang pernah ke sini. Tulisan dan bentuknya sangat besar sekali.. entah perlu beberapa orang untuk menyusunnya. Dan tulisan-tulisan itu akan terlihat setiap orang melihat kawah G. Slamet dari jauh..
               
Dan akhirnya setelah puas sampai di puncak gunung saatnya kembali ke basecamp dan menunggu waktu pulang. Perjalanan ini menyenangkan untukku, tapi aku memilih banyak diam dengan yang lain karena aku tak kenal sama mereka sama sekali. Parah sekali.

Namun di setiap kebahagiaan selalu aja ada kesedihan juga. Perjalanan ini di lain sisi ada sisi baik dan buruknya. Kabar burukku datang setelah aku turun dari puncak. Mungkin karena aku kurang hati-hati atau terlalu sombong setelah sampai di puncak. Aku akhirnya tergelincir waktu turun (bukan pas di bebatuannya ya!!). Aku tergelincir waktu di jalan menuju Pos 4, Entahlah apa yang akan terjadi kalau aku jatuh ke jurang. Alhamdulillah Allah masih menolongku.

Dan akibat dari itu, kedua lututku dibawa jalan sakit sekali. Lututku rasanya sudah lemas sekali. Apalagi turun gunung adalah hal yang paling menyenangkan untuk para pendaki karena lebih mudah daripada naik gunung. Bayangkan aja naik gunung Slamet bisa sampai 1-2 jam untuk sampai ke setiap Posnya. Turunya bisa sampai setengah waktunya. Bagiku itu terasa sulit sekali. Tidak bagi mereka yang tidak mengalami apa-apa. Aku masih bisa menahannya sampai Pos 1. Tapi kesakitanku sudah naik sampai ubun-ubun.. Teman-teman pendaki yang lain turun dengan berlari dan aku juga harus melakukan hal yang sama supaya nggak ketinggalan meski dengan tempo yang lebih lambat. Dan akhirnya perjalanan untuk sampai ke basecamp aku awali dengan tangisan. Karena nggak bisa nahan rasa sakit lagi. Ya, itulah kisahku.

Seperti halnya waktu saat naik G.Ungaran, awal masuk kuliah juga terdapat hal yang sama, aku kurang mempersiapkan staminaku. Aq cuma makan sekali sebelum naik gunung. Dan akhirnya badanku gak enak. Aku muntah-muntah selama pendakian dan untungnya nggak ada teman-temanku yang melihat. Biarpun dikasih makan oleh panitia, juga akhirnya dikeluarkan oleh tubuhku juga. Tapi Alhamdulillah, Allah menolongku lagi. Biarpun rasanya gak kuat untuk nyampai di puncak G.Ungaran, aku masih diberi kekuatan untuk tetap mendaki sampai puncak. Meski akhirnya setelah selesai naik gunung, aku sakit perut sampai beberapa hari.. menyebalkan sekali rasanya hahaha

Sebelum mendaki ada cerita lucu antara aku dan ibuku. Sebelum memutuskan untuk mendaki, aku memang sudah memberitahu ibuku kalau aku punya rencana buat naik gunung tapi tidak tahu bakalan terlaksana #rencananya buat mancing dulu sih.. Hahaha. Ya tentunya, respon ibuku pasti tidak mengizinkan. Tapi, akhirnya aku tetap nekat pergi, yang penting aku sudah kasih tahu. Pada saat H-beberapa jam sebelum berangkat aku ditelpon ibuku untuk mencari buku-buku Statistika di perpustakan, karena mengira aku tidak berangkat. Tapi kemudian, aku memberitahu ibuku bahwa sebentar lagi aku akan berangkat buat naik gunung. Jawaban ibuku pada saat itu cuma satu, “Astagfirullah!!” dan langsung menutup telepon. Aku pun kemudian cuma tertawa saja. Hahaha.. Aku tahu alasan ibuku, karena kegiatan seperti itu terkesan berfoya-foya (bersenang-senang) dan tidak ada manfaatnya. Tapi, tujuanku adalah untuk tafakur alam, mensyukuri nikmat Sang Pencipta bahwa kita bukanlah apa-apa di hadapannya.

Banyak hal yang di dapat setelah sampai di puncak. Setelah banyak pengorbanan dari uang, tenaga, kepercayaan diri/mental, segala upaya untuk menjaga tubuh dari dingin, untuk tetap bernapas di tengah kedinginan malam, menahan dari kelaparan, mencegah dari dehidrasi, dan memompa semangat diri untuk bisa menapak sampai langkah terakhir, dan yang terpenting tak perlu tergesa-gesa yang penting selamat.

Aku yakin bukan hanya pemandangan yang luar biasa saja yang disuguhkan di atas sana. Tapi  hal yang lebih ku syukuri adalah aku diizinkan dan diberi kesempatan untuk bisa mewujudkan apa yang ku inginkan sejak dulu dan tentunya mensyukuri nikmat Tuhan yang terkira selama ini. Karena sebetulnya kita ini sangatlah kecil di hadapan-Nya. Apalah daya kita tanpa Kuasa Yang Maha Menciptakan. Andaikan setelah kau sampai di puncak gunung. Lihatlah pemandangan yang terhampar di depan matamu. Betapa indahnya itu. Pernahkah terpikirkan sedikit di pikiranmu. Bagaimana Tuhan bisa menciptakan sedetail itu, sekecil itu, seakurat mungkin. Dan lihatlah langit diatasmu. Entah langit itu akan berujung kemana. Langit itu menembus lapisan bumi dan akhirnya melewati bermilyaran-milyaran kehidupan angkasa di luar sana. Betapa besarnya. Entahlah, apa arti hidup kita di hadapan Yang Maha Kuasa? Betapa kecil dan hinanya kita. Dan banyak hal yang tak bisa tersampaikan oleh kata-kata.
          
      Mungkin ada beberapa orang yang naik gunung karena kata-kata Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa yang meninggal di puncak Gunung Semeru (wajib baca biografinya/catatan diarinya, tapi terlalu politik)  atau gara-gara nonton 5 CM. Kalau aku malahan gak pernah tau sama sekali, dan baru tahu setelah naik gunung. Karena aku naik gunung karena keinginanku sendiri tanpa ada hal yang mendorong untuk melakukannya. Meski pada akhirnya, aku kapok naik gunung bukan berarti aku membencinya. Buktinya, setiap ada informasi tentang pendakian gunung, hatiku selalu berbunga-bunga kayak orang jatuh cinta. Sampai-sampai temanku pernah berkata, “Jatuh cinta kok sama gunung, jatuh cinta sama manusia lah” hahaha Aku hanya kapok mendakinya saja karena capek dan perlu banyak usaha, tapi setelah sampai di puncak, pasti kepikiran kira-kira gunung mana lagi yang mau ku daki. Hahaha..

Sekian dariku.



(Dari kiri ke kanan : Adeknya Ado, Afri, Ondang, Ado, Willy, Aku dan Kak Aji “Archidipala”


(Ondang, Ado dan Aku tentunya)

Pemandangannya gak kalah seru dengan yang ada di 5 CM… Cantik sekali

Bunga edelweiss yang mempesona.. Dulu waktu kelas 2 SMP, aku pernah ngasih nama adik tokoh utama di novelku “A Star of Spring” karena terkesan oleh bunga edelweiss, namanya Edeline Graceina,,, nyambuung dikit la… hahaha
Terkadang kita membutuhkan waktu khusus untuk diri kita sendiri. Waktu yang hanya menjadi milik kita. Berhenti sejenak jauh dari hiruk pikuk kehidupan duniawi. Menilik ke dalam sudut hati kita, dengan memikirkan banyak hal yang telah terlewati. 

Apa yang selama ini telah kita lakukan. Apa yang selama ini telah kita dapatkan. Banyak hal yang perlu disyukuri dan banyak hal yang perlu disesali. Karena sejatinya manusia harus selalu memperbaiki dirinya.

Aku merindukan waktu berjumpa dengan diriku sendiri bersama kesepian. Dan seolah-olah aku melihat kejadian yang telah berlalu seolah semuanya terlalu berharga untuk dilupakan tanpa di ambil hikmahnya.





Kemarin, Hari ini dan Esok adalah kosakata keseharian yang sering kita pakai. Bahwa kemarin adalah kemarin, hari ini adalah sekarang, dan esok adalah misteri, bisa jadi bisa tidak.

Kemarin, segala sesuatu yang berlalu biarlah berlalu, tiada yang perlu ditangisi atau diratapi. Jika semua hal yang telah berlalu ternyata belum beres, perbaikilah sekarang. Jangan menunggu esok. Karena esok akan menjadi sekarang,… sekarang dan sekarang. Jika menunggu esok, penantian akan menjadi panjang dan menunda waktu juga keadaan.

Hari ini, dimana kita menatap hari ini, berdiri tegak dan menatap sinar mentari pagi. Kita sadar bahwa waktu yang kita punya saat ini adalah hari ini, tak lebih dan tak kurang. Maka, sekarang maupun hari ini adalah perjalanan kita membuka lembar baru babak demi babak hidup kita untuk berdamai dengan masa lalu dan memperbaiki keadaan, juga melakukan persiapan untuk bekal esok dan masa depan yang masih misteri atau tidak ada sama sekali. 

Kesempatan kita adalah hari ini. Pergunakanlah baik-baik bahwa hari ini akan menjadi kemarin, waktu akan bergulir dan menjadikan kesempatan kita menjadi habis. Hari ini adalah waktu terbaik, lakukanlah hal yang ingin kau lakukan, lakukanlah yang terbaik untuk hari ini. Lakukanlah sekarang!!!
Jangan menyesal, jika di akhir usia dan melihat kebelakang, tidak ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya ataupun mengulang semua yang telah terbuang sia-sia. 


Hai, ini blog baruku. Sebenarnya aku udah memiliki beberapa blog sebelum ini. Tapi you know-lah semua gara-gara lupa passwod email dan aku tidak bisa mengaksesnya. Mungkin karena kebanyakan email yang pernah aku buat, jadi lupa sandinya apa.. Sedihnyaa... huaaaa T.T

Blog ku yang masih aktif ada hijaulumuta.blogspot.com dan ada juga nenigreeeen.blogspot.com. Blog terakhir udah banyak post-nya mesti jarang aktif. Huaaaaa... dan semuanya gak bisa diterusin gara-gara ya lupa password email buat masuk ke blogger. Jangan heran kalau nama blog sebelumnya berhubungan dengan nama hijau. Itu karena aku sendiri penyuka warna hijau. 

ya, semoga blog baru ini gak bernasib sama dengan blog sebelumnya.. Sedih banget kalo harus buat blog lagi gara-gara lupa password. T.T

Keep watching. It's my blog about my daily journey, my thought about something, and other,, maybe about my project too. Hahaha. Sometimes it's my escape from reality of my life. There are things that must be told rather than saved by yourself. 



Langganan: Komentar ( Atom )

ABOUT ME

Hai, I'm Neny. I like nature and sky, and like green and brown color true. see my project IG : @dandellea

LATEST POSTS

  • Do It Now. Sometimes "Later" Becomes "Never"
    Kemarin, Hari ini dan Esok adalah kosakata keseharian yang sering kita pakai. Bahwa kemarin adalah kemarin, hari ini adalah sekarang, ...
  • Berhenti Sejenak
    Terkadang kita membutuhkan waktu khusus untuk diri kita sendiri. Waktu yang hanya menjadi milik kita. Berhenti sejenak jauh dari hiruk piku...
  • INTRODUCTION
    H ai, ini blog baruku. Sebenarnya aku udah memiliki beberapa blog sebelum ini. Tapi you know- lah semua gara-gara lupa passwod email ...
  • Pendakian Pertamaku Mt. Slamet (3432 mdpl)
    Pendakian pertamaku adalah ke Gunung Slamet (3432 mdpl) pada tanggal 6 – 8 Juni 2013. Mungkin bagi sebagian orang beranggapan untuk apa cap...
  • Semuanya akan baik-baik saja
    Aku pernah terpuruk, menangis sendirian dalam diam, menyalahkan keadaan, sampai perasaanku benar benar membaik, lalu aku menyakinkan dir...
  • Menjadi Orang yang Bermanfaat
    Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
  • Dandellea
    Dandellea adalah sebuah projectku yang isinya tentang jahit menjahit. Kenapa aku bisa menamakannya dandellea. Karena dandellea adalah gabung...
  • Real Happiness is ...
    Setiap orang menginginkan kehidupan yang bahagia. Namun, kebahagian itu bukan diukur dari seberapa banyak harta, seberapa banyak teman,...
  • My New Baby ''Sukulen"
    Kenalin,,, ini peliharaan baru aku, "Sukulen". Sukulen adalah sejenis kaktus, yang dapat hidup di tanah yang kering dengan menyimp...
  • Me Time: Lettering and Watercolour
    Hari ini aku kalap membeli alat alat lukis, padahal rencana awalnya aq berniat melihat harga Gouache Paint Set. Tapi ternyata produk yang d...

Blogger templates

Categories

  • My Journey
  • My Music
  • My Project
  • My Story
  • My Thought

Instagram

Blog Archive

  • ▼  2016 (13)
    • ▼  April (13)
      • Dandellea
      • Menjadi Orang yang Bermanfaat
      • My New Baby ''Sukulen"
      • Me Time: Lettering and Watercolour
      • Semuanya akan baik-baik saja
      • Positive Thinking ....
      • Niji -- AAA
      • Di Antara Kebahagiaan dan Kesedihan ....
      • Real Happiness is ...
      • Pendakian Pertamaku Mt. Slamet (3432 mdpl)
      • Berhenti Sejenak
      • Do It Now. Sometimes "Later" Becomes "Never"
      • INTRODUCTION
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

nenyrifaa
Lihat profil lengkapku

Latest Posts

  • Do It Now. Sometimes "Later" Becomes "Never"
    Kemarin, Hari ini dan Esok adalah kosakata keseharian yang sering kita pakai. Bahwa kemarin adalah kemarin, hari ini adalah sekarang, ...
  • Berhenti Sejenak
    Terkadang kita membutuhkan waktu khusus untuk diri kita sendiri. Waktu yang hanya menjadi milik kita. Berhenti sejenak jauh dari hiruk piku...
  • INTRODUCTION
    H ai, ini blog baruku. Sebenarnya aku udah memiliki beberapa blog sebelum ini. Tapi you know- lah semua gara-gara lupa passwod email ...
  • Pendakian Pertamaku Mt. Slamet (3432 mdpl)
    Pendakian pertamaku adalah ke Gunung Slamet (3432 mdpl) pada tanggal 6 – 8 Juni 2013. Mungkin bagi sebagian orang beranggapan untuk apa cap...
  • Semuanya akan baik-baik saja
    Aku pernah terpuruk, menangis sendirian dalam diam, menyalahkan keadaan, sampai perasaanku benar benar membaik, lalu aku menyakinkan dir...
  • Menjadi Orang yang Bermanfaat
    Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
  • Dandellea
    Dandellea adalah sebuah projectku yang isinya tentang jahit menjahit. Kenapa aku bisa menamakannya dandellea. Karena dandellea adalah gabung...
  • Real Happiness is ...
    Setiap orang menginginkan kehidupan yang bahagia. Namun, kebahagian itu bukan diukur dari seberapa banyak harta, seberapa banyak teman,...
  • My New Baby ''Sukulen"
    Kenalin,,, ini peliharaan baru aku, "Sukulen". Sukulen adalah sejenis kaktus, yang dapat hidup di tanah yang kering dengan menyimp...
  • Me Time: Lettering and Watercolour
    Hari ini aku kalap membeli alat alat lukis, padahal rencana awalnya aq berniat melihat harga Gouache Paint Set. Tapi ternyata produk yang d...

Blogroll

Flickr

About

Copyright 2014 Dandelion and Azalea .
Designed by OddThemes